RENUNGAN PAGI 1 MARET 2017

​Dibutuhkan Sebuah Simbol



“Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” 

(Keluaran 25:8)



Dengan manifestasi kemuliaan-Nya di Sinai, Tuhan berusaha memberikan kesan kepada umat-Nya mengenai kemegahan mengagumkan dari keberadaan-Nya. Mereka melihat-Nya sebagai Allah yang adil dan berbelas kasihan yang oleh kuasa-Nya mereka akan dilindungi dan oleh hikmat-Nya mereka akan dituntun kepada status tertinggi di antara bangsa-bangsa.


Tetapi mereka lambat untuk mengerti. “Sudah terbiasa sebagaimana mereka di Mesir menyaksikan perlambangan dewa yang kelihatan, dan ini semua dari jenis yang paling keji, sulitlah bagi mereka untuk mengerti Keberadaan atau tabiat Oknum yang tidak kelihatan itu. Karena kasihan atas kelemahan mereka, Allah memberi mereka lambang kehadiran-Nya. ‘…Mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku’ firman-Nya ‘supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka”’ (Membina Pendidikan Sejati, hlm. 31).


Bagaimana dengan kita di zaman ini? Apakah kita lebih baik dari mereka? Ya, dilengkapi lebih baik—kita memiliki perangkat modern untuk meningkatkan kesaksian kita; dan, ya, mendapat informasi yang lebih baik—kita memiliki contoh kehidupan mereka untuk mengingatkan kita. Namun, apakah mungkin para dewa materialisme, kesenangan, dan keangkuhan yang mendapat kesetiaan dari masyarakat di sekitar kita juga mendapat penyembahan kita juga?


“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel. 20:3) adalah perintah yang bukan hanya terhadap penyembahan berhala pahatan, atau perintah untuk membuat Tuhan berada di tempat pertama dalam hidup kita, Itu juga perintah Sang Pencipta bahwa benar-benar tidak ada “Tuhan lain” di dalam hati kita. Dia bukan Allah tertinggi kita—tetapi satu-satunya Allah; Dia satu-satunya Tuhan atau tidak ada sama sekali!


Pernah dilaporkan Napoleon suatu kali memerintahkan prajuritnya yang sedang melakukan perayaan untuk diam sepenuhnya sementara dia menempatkan telinganya ke tanah dan mendengar sesuatu dengan cermat. Setelah beberapa menit dia bangkit dan memerintahkan pasukannya kembali ke posisi pertahanan mereka. Mengapa? Karena apa yang didengar jenderal cerdas ini dari kejauhan memperingatkan bahaya yang akan datang. Meskipun itu bunyi nyaring musik Prancis yang mendukung semangat mereka, atau derap kaki barisan pasukan Inggris yang menyentak bumi mengisyaratkan penyergapan ada di depan.


Penundaan bangsa Israel memasuki Kanaan terutama karena mereka berusaha membagikan ruang bagi Allah kepada dewa lainnya. Kesalahan bangsa Israel modern juga sama, sama-sama tersesat dan tertunda. Penebusan bersama tidak nyata pada waktu itu, sekarang juga tidak. Dia masih tinggal di dalam hati orang yang memberi kepada-Nya pengabdian eksklusif dan yang dengan komitmen itu, menyelaraskan barisan mereka dengan musik, jalan mereka dengan perkataan mereka, dan kinerja mereka dengan pekerjaan mereka.

Advertisements