RENUNGAN PAGI 28 FEBRUARI 2017


Kehendak-Nya yang Tidak Berubah



“Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun” (Galatia 3:15).



Seperti dibuktikan oleh Alkitab, bahkan perjanjian itu (kontrak atau kehendak) ditegaskan oleh manusia, harus dipandang dengan ketat dan terhormat. Ibrani 9:16,17 menyatakan masalah sifat mengikat dari persetujuan perjanjian itu dengan cara berikut: “Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.”


Perjanjian (yang semula) yang kekal, selain janji penebusan Allah yang pertama, juga merupakan kehendak terakhirnya bagi kemanusiaan. Ketika Dia mati pada Kalvari, Dia memeteraikan perjanjian kehendak-Nya. Jika Dia tidak mati, kehendak-Nya tidak akan pernah ada. Karena Dia mati, perjanjian itu tidak dapat dibatalkan atau diubah; perjanjian itu tidak boleh dikurangi atau ditambahkan (tidak karena diharuskan tidak juga karena dibutuhkan). Segala yang diperlukan untuk keselamatan kita—semua prinsip, janji, dan prosedur yang diperlukan untuk kebaikan kita sekarang dan pada masa kekekalan sudah ada di dalamnya.


Ada beberapa hal, seperti baptisan, Perjamuan Tuhan, Sepuluh Perintah (termasuk Sabat hari ketujuh yang suci), yang tidak disetujui oleh berbagai orang beragama: Dipercikkan sebagai ganti dicelupkan, makan dan minum roti dan anggur tetapi tidak membasuh kaki, mengurangi Sepuluh Perintah untuk ide mengasihi tanpa aturan khusus, dan mengganti hari ibadah sebagai hari pertama dalam menggantikan hari ketujuh. Tak satu pun dari penggantian dan perubahan ini yang diizinkan; mereka berjuang di sisi Kalvari yang salah, dan karena itu tidak disahkan oleh Pewaris yang kata-kata-Nya merupakan perjanjian dan yang kematian-Nya memeteraikan perjanjian.


Lalu apakah hubungan kita yang tepat dengan kehendak Kristus? Hubungannya adalah penyerahan yang sepenuhnya, mati setiap hari terhadap diri, dan, sementara percaya dan menurut, “hidup karena percaya, bukan karena melihat” (lihat 2 Kor. 5:7).


Bahkan kemudian, dengan perilaku sehari-hari ini, kita tidak memenuhi syarat untuk surga. Hal ini karena “tidak ada sesuatu kecuali kebenaran Kristus dapat menjadikan kita berhak terhadap salah satu berkat-berkat perjanjian anugerah itu…. Kita tidak boleh berpikir bahwa usaha kita sendiri dapat menyelamatkan kita; Kristus adalah satu-satunya harapan keselamatan kita” (Patriarchs and Prophets, hlm. 431). Hanyalah oleh karunia ini perjanjian kita dengan Kristus tidak hanya diterima untuk ditandatangani, tetapi juga selamanya dimeteraikan dan, saat kedatangan-Nya, akhirnya perjanjian itu diberikan.

Advertisements