RENUNGAN PAGI 27 FEBRUARI 2017

​Perjanjian Awal Digenapi


“Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir” (1 Petrus 1:20).



Perjanjian yang pertama atau yang awal, “perjanjian dari semua perjanjian-perjanjian yang kekal,” bukanlah perjanjian yang dibuat untuk Adam dan Hawa, atau kepada Abraham dan Musa atau kepada salah satu leluhur lainnya. Perjanjian itu dibuat oleh pribadi Trinitas untuk kita sebelum dunia diciptakan. Catatan inspirasi: “Sebelum dasar bumi ini diletakkan, Bapa dan Anak telah bersatu dalam suatu perjanjian untuk menebus manusia jika ia dikalahkan oleh Setan. Mereka telah berjabat tangan dalam janji yang penuh khidmat bahwa Kristus harus menjadi pengaku bagi umat manusia” (Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 492).


Apakah esensi dari perjanjian ini? Perjanjian itu terbentuk jika manusia gagal, Dia, yaitu Yesus, akan berkenan untuk menjadi Penebus kita.


Bukti bahwa Kristus memahami bahwa Dia tinggal di dunia untuk memenuhi misi ini terlihat dalam banyak pernyataan-Nya sehubungan dengan kehendak Bapa-Nya. Kata-katanya antara lain “Bapa, yang mengutus Aku” (Yoh. 12:49); “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh. 8:29); “Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” (Luk. 2:49); “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 9:4); dan “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku” (Yoh. 12:49). Dan ketika Ia berhasil menyelesaikan misi-Nya, Dia bisa mengatakan kepada Bapa: “Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku” (Yoh. 17:24). Kepada kita, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh. 14:1-3).


Karena Dia yang telah memanggil kita adalah setia, kita dapat hari ini dan setiap hari, hidup dalam terang sukacita keyakinan dan harapan. Dengan keberhasilan dalam menyelesaikan janji-Nya yang dibuat pada masa kekekalan, kita memiliki janji hidup bersama-sama dengan Dia dalam masa depan yang kekal. Dengan kasih dan karunia seperti itu, kita dikuatkan, diinspirasikan, dan diteguhkan dalam goncangan kehidupan kita sehari-hari.

Advertisements