RENUNGAN PAGI 26 FEBRUARI 2017

​Perjanjian yang Lebih Baik




“Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi” (Ibrani 8:6).



Perjanjian yang lebih baik? Janji-janji yang lebih baik? Ya, tepat sekali! Perjanjian yang Yesus buat sebelum dunia kita diciptakan (yang Dia nyatakan di taman dan dilaksanakan di Kalvari) jauh lebih baik daripada yang diungkapkan di Sinai atau yang lainnya. Hal ini karena variabel manusia dari kesetaraan perjanjian ini bukanlah karena ketaatan manusia berdosa, namun diselamatkan oleh kasih karunia, karena Yesuslah, Allah-manusia itu, menaklukkan dosa dengan sempurna bagi kita.


Dalam semua perjanjian lain respons makhluk ciptaan terhadap janji Sang Pencipta, meskipun maknanya baik, adalah mustahil. Karena semua perbuatan manusia telah rusak, tidak ada perbuatan manusia yang cukup memadai untuk memenuhi tuntutan patuh kepada perjanjian Ilahi. Kekurangan tubuh daging yang najis menjamin ketidaklayakan perawakan kita di hadapan Allah. Kita tidak bisa mempersembahkan perbuatan atau kinerja yang cukup layak, cukup suci, cukup benar, dan cukup murni untuk memenuhi syarat sebagai tanggapan yang memadai terhadap unsur perjanjian yang Allah berikan.


Kita adalah makhluk ciptaan yang tidak bisa menunjukkan kinerja untuk memenuhi janji sederhana dari kerinduan hati kita yang terbatas. Bagaimanakah kita bisa berharap atau beranikah kita merencanakan kontribusi kepada hubungan perjanjian yang dianggap layak? Kita tidak bisa; tidak akan bisa. Tetapi Yesuslah yang melakukannya untuk kita.


Dia sendiri menjalani kehidupan di bumi yang dapat diterima. Dia sendiri mengatakan kepada Bapa, “Semua yang Engkau perintahkan—Aku lakukan!” Dan hidup itulah yang Bapa terima menggantikan kita, dan itu adalah janji yang lebih baik yang membangun perjanjian yang lebih baik—perjanjian anugerah.


Kita menandatangani catatan dan kontrak: Kontrak rumah, kontrak mobil, kontrak real estate, dan sejenisnya, dan jika kita bijak, kita setia kepada kewajiban yang terkandung dalam materi perjanjian. Betapa kita seharusnya lebih rajin dan berdedikasi dalam memenuhi perjanjian kita dengan Yesus? Karena Dia telah memenuhi syarat untuk kita, tidak perlu lagi merasa takut maupun gagal. Hal ini karena, ketika kita berada di dalam Kristus Yesus, Dia menjadi “hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30). Janji yang lebih baik, keadaan yang lebih pasti, dan upah merupakan jaminan dari karunia kebenaran-Nya.

Advertisements