RENUNGAN PAGI 25 FEBRUARI 2017

​Memilih untuk Setia



“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”(Yosua 24:15).



Tidak ada sisi netral atau zona bebas militer—tidak ada daratan “di antara” di mana seseorang dapat mundur dan menyingkir dari pertempuran antara baik dan jahat Kehidupan adalah pertempuran antara hidup dalam perjanjian dengan Allah atau dengan Setan. Tidak ada jalan tengah. .Apakah kita anak-anak Allah yang berkembang menuju kesempurnaan dan kematangan (menjadi sempurna) atau kita adalah pemuja kejahatan. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).


Bagaimanakah mungkin kita mengaku sebagai orang Kristen melayani mamon? Kita melakukan hal itu dengan “mengarahkan tenda menghadap Sodom”; dengan mengakui nama Kristus sambil berjalan dijalan dosa; dengan menjadi begitu terbiasa dengan cara-cara dunia sehingga pandangan dan suaranya tidak lagi mengejutkan kita; dengan tergelincir dari cinta pertama yang tulus kepada pertunjukan melelahkan yaitu “urusan seperti biasa.”


Tentunya dalam memilih untuk memihak kepada yang jahat, tidak selalu dengan demonstrasi atau pernyataan dramatis. Yang paling sering terjadi sehubungan perjanjian kita dengan kematian adalah dengan turun secara perlahan-lahan dari persekutuan yang penuh sukacita dalam pengalaman pertobatan kita ke dalam lubang dosa yaitu tempat yang menahan orang, tidak percaya.


Jarang kita melompat ke dalam pencobaan dan kesalahan. Kita melakukannya dengan tindakan tunggal mengabaikan apa yang melemahkan energi kita dan mengalihkan kesetiaan kita. Daya pikat prioritas yang lebih rendah dan semak beracun nilai-nilai sekular adalah penyebab yang merampok vitalitas rohani kita dan mengubah kita untuk memiliki kesetiaan yang salah, tertarik kepada kepalsuan, dan melakukan perjanjian dengan kematian.


Kita tidak bisa melepaskan diri dari pemandangan, suara, godaan dan daya pikat masyarakat yang ada disekitar kita; kita adalah penduduk dari dunia kegelapan ini. Tetapi kita bisa dan harus mati setiap hari untuk dosa dan, meskipun kita penduduk dari lingkungan yang jahat ini, kita harus tetapkan kasih sayang kita mengarah pada perkara yang di atas.

Advertisements