RENUNGAN PAGI 24 FEBRUARI 2017

​Perkara Individu



“Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas. Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput; giat cemburu TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini” (2 Raja-raja 19:30, 31).



Apakah fakta penolakan bangsa Israel juga berarti jutaan orang yang hidup di bawah ketentuan perjanjian lama akan hilang? Tidak. Fakta ini berarti mereka ditolak sebagai kendaraan surga untuk secara berkelanjutan menunjukkan tujuan Allah bagi umat manusia.


Hal ini tidak aneh. Masalahnya bukan sama sekali mengenai mayoritas bangsa atau umat itu berjanji untuk menurut. Sedikit orang yang diselamatkan pada zaman Nuh memiliki kesejajaran dengan sedikit orang di Sodom dan Gomora, sedikit orang yang mengakui Kristus selama pelayanan-Nya, sedikit orang yang setia dari gereja di padang belantara pada abad kegelapan, dan sedikit orang yang diselamatkan saat Kristus kembali (Luk. 17:26-28).


Apa yang kita pelajari dari kegagalan bangsa Israel (dan kegagalan kita juga) adalah bahwa keselamatan adalah masalah pribadi. Hukum tertulis dalam buku Injil dan pada dinding gereja, dilukis pada mimbar atau kolam baptisan agar dapat dibaca semua orang, ditempatkan dengan baik dan memang seharusnya dibuat menonjol. Tetapi bukan hal ini yang menebus; Hukum Allah harus tertulis dalam hati kita. Apakah arti sebenarnya? Ini berarti bahwa hukum itu harus berada dalam ingatan kita, dalam hati nurani kita—kerangka dan substansi pandangan terhadap dunia yang menuntun setiap tindakan kita.


Sepuluh Perintah Allah bukanlah seperangkat aturan untuk diingat hanya selama Pekan Doa atau hari ibadah khusus, atau secara mencolok digantung pada mimbar sebagai pengingat tanggung jawab kita. Perintah itu juga bukan untuk disusun atau diuraikan untuk sesekali dirujuk dalam studi atau debat. Perintah itu harus menjadi pendamping kita yang berkesinambungan—panduan yang menginformasikan seluruh area hidup kita: Gereja, rumah, sekolah, serta dalam rekreasi kita, pekerjaan kita, dan bahkan dalam waktu luang kita.


Umat Allah yang sisa, yang luput dari tuntutan hukum dosa yang mengerikan di jam-jam yang terakhir bukanlah ras atau golongan agama fisik, tetapi persekutuan rohani-Nya—gereja-Nya yang kelihatan, setiap ras dan denominasi, yang dalam hatinya hukum-Nya telah tertulis dan kasih-Nya bertakhta.

Advertisements