RENUNGAN PAGI 23 FEBRUARI 2017

Hati: Tempat yang Lebih Baik


“Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,’ demikianlah firman Tuhan. ‘Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku”(Ibrani 8:10).



Masalah utama dengan pengaturan perjanjian pertama adalah bahwa Israel tidak pernah menghayati hukum yang tertulis di batu. Ada beberapa yang memiliki semangat itu serta surat aturan yang Allah telah berikan. Mereka memiliki prasangka dan rencana lain: Mereka ingin makanan dan kenyamanan, hak istimewa dan kekuasaan, status dan keamanan, tetapi mereka menghargai cara orang kafir yang ada di sekeliling mereka di atas kehendak Allah yang menjanjikan hal tersebut.


Ketidaktaatan mereka mengakibatkan tidak hanya kekalahan militer dan penyakit fisik, tetapi juga dalam kemunduran sosial, kemerosotan intelektual, dan penipuan diri yang kotor. Kurangnya kepercayaan kepada Tuhan dan mengabaikan perintah-Nya selalu membawa bencana.


Kabar baik bagi kita adalah karena, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba” (1 Kor. 10:11), kita memiliki kesempatan istimewa untuk memperoleh manfaat dari kesalahan mereka. Kita tidak bisa berharap bahwa semua yang mengakui nama Yesus bertindak sebagai murid yang benar, tetapi kita bisa dan harus sebagai individu memutuskan untuk tidak pernah meninggalkan pernyataan perjanjian kita dengan Allah kita.


Beberapa tahun yang lalu seorang pengusaha terkenal berdiri di hadapan kelas tamatan dari Pine Forge Academy di Pennsylvania Timur dan menyampaikan amanat penamatan terpendek tetapi yang mungkin paling mendalam yang pernah diberikan pada lembaga bersejarah ini Pidato dua menit yang tak terlupakan terdiri dari pengulangan tiga kata—“jangan pernah menyerah.” Hanya pada bagian akhir ia memberikan variasi, dengan mengatakan, “jangan pernah, jangan pernah, menyerah!”


Tekad yang abadi tersebut harus menjadi moto setiap anak Tuhan. Bagaimanakah seseorang dapat melewati semua godaan, berhenti atau stop atau menyerah—jangan pernah menyerah? Dengan tetap dalam hubungan berkesinambungan dengan Firman Allah—sumber motivasi kita maupun kekuatan untuk menurut. Kemudian, sebagai gantinya tertekan dari menjadi yang lebih rendah, dan dalam analisis akhir, yaitu standar mematikan dari masyarakat sekitar kita, kita bisa dan akan berhasil dalam kesetiaan, kehormatan, kemitraan etika hidup bersama Tuhan kita.

Advertisements