RENUNGAN PAGI 21 FEBRUARI 2017

Selasa, 21 Februari 2017


*Baptisan: Tanda yang Lebih Baik*



“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”


(Roma 6:4)



Dengan kematian Yesus, penguburan, dan kebangkitan-Nya Kristus menganulir hukum Musa bersama dengan tatacaranya yang banyak (Kol. 2:12-15). Tapi melalui tindakan yang sama, Dia mengesahkan cara baru-Nya untuk berhubungan dengan para pengikut-Nya; pengorbanan yang mengakhiri perjanjian lama, sekarang menerangi yang baru.
Bagaimanakah kita mengomunikasikan peristiwa di Kalvari?


Oleh baptisan! Dengan mengikuti upacara baptisan, kita, orang Kristen menyatakan kematian kita terhadap dosa, penguburan kita dari ketidaktaatan masa lalu, dan kebangkitan kita untuk hidup baru yang diarahkan dan ditopang oleh Firman Tuhan.
Baptisan adalah pernyataan publik penolakan kita terhadap kehidupan kita yang lama, yaitu kehidupan yang fasik dan ketetapan kita untuk hidup selanjutnya, oleh kasih karunia-Nya, dalam kesetiaan terhadap kehendak Kristus.


Baptisan tidak membersihkan kita. Juga tidak memberi kita kekuatan baru. Baptisan juga tidak menghasilkan pembenaran atau penyucian. Bukan melalui dirinya sendiri ada tindakan keselamatan, melainkan niat dalam deklarasi sehubungan dengan tanggapan kita mengenai tawaran kemurahan Yesus akan kehidupan kekal.


Apakah baptisan ulang terkadang pantas? Ya. Baptisan ulang pantas untuk mereka yang sudah dibaptis, yang pola hidup mereka terang-terangan melang­gar hukum Allah; adalah pantas bagi mereka membutuhkan dedikasi ulang, meskipun tidak menunjukkan pelanggaran mencolok dari perintah Allah, ter­inspirasi untuk dedikasi ulang lebih  kuat daripada apa yang ditawarkan oleh upacara basuh kaki. Dan karena perintah Kristus untuk membaptis disertai dengan perintah untuk mengajar segala sesuatu, adalah paling tepat jika orang Kristen yang dibaptis sebelumnya belajar segala sesuatu (semua kebenaran penting untuk keselamatan). Hal ini penting termasuk karakteristik dari Sepuluh Perintah Allah: Hari Sabat, keadaan orang mati, dan kedatangan Yesus yang kedua kali.


Apakah baptisan dilakukan pada saat pertama kali menanggapi panggilan Allah, atau ketika setelah mengetahui Injil sepenuhnya, atau ketika masuk kembali ke dalam persekutuan gereja setelah kemurtadan, atau hanya sebagai pe­nyerahan hidup yang membutuhkan dedikasi ulang yang serius, hal itu akan menyegarkan para peminat, menggerakkan saksi mata, dan membawa sukacita kepada Trinitas yang dalam namanya hal itu dilakukan.

Advertisements