RENUNGAN PAGI 20 FEBRUARI 2017

Pengesahan yang Lebih Baik



“Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah yang tidak nampak keYahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukanlah secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” (Roma 2:28,29).



Pilihan Allah untuk ekspresi persetujuan bangsa Israel terhadap ketentuannya yaitu melalui ritual sunat—berdarah dan (karena kurangnya perlengkapan steril) sangat berisiko.


Sebuah batu tajam adalah lebih baik daripada yang tumpul, tetapi itulah yang terbaik, tata cara ini menyakitkan bagi anak dan orangtuanya. Apa yang sulit bagi anak kecil dari bangsa Israel bahkan lebih ditakuti oleh pria yang bergabung dengan bangsa itu sebagai remaja atau orang dewasa.


Tindakan menyakitkan di masa Perjanjian Lama yang telah dimeteraikan itu telah memudar menjadi tidak begitu penting jika dibandingkan dengan rasa sakit dan pengorbanan ketika Perjanjian Baru disahkan. Paku tumpul, yang berkarat dipakukan dengan palu yang berkepala berat yang merobek melubangi tangan dan kaki Yesus. Dagingnya tercabik demi dosa-dosa kita. Darah-Nya mengalir deras dan rela mati untuk kita. Itu tidak cukup. Para seniman cukup baik menggambarkannya, tetapi mungkin tidak akurat dengan menempatkan cawat untuk bagian tengah tubuh Tuhan yang sekarat. Para ahli hampir secara keseluruhan setuju bahwa hal itu tidak demikian adanya. Mereka yang disalibkan pada zaman Kristus biasanya mati dengan semua pakaiannya dilucuti, diejek oleh orang banyak, tersiksa oleh berbagai unsur, dan tanpa henti diserang oleh serangga yang berkerumun dan hama yang merayap.


Sementara berat badan mereka secara bertahap merosot kepada perut mereka yang melemah, bernapas menjadi begitu sulit dan bahkan bagi yang terkuat, dalam waktu 72.jam, kehilangan kemauan dan kemampuan untuk mendorong ke atas pada kaki yang terasa sakit dan sulit menarik napas. Mereka yang disalibkan mati dengan memalukan, tak dapat melepaskan diri, dan dalam penderitaan yang tak terlukiskan.


Tentu saja, Tahanan ini bisa lolos! Dia bisa saja memanggil 10.000 malaikat! Dia bisa, hanya dengan kata-kata atau dengan melihat atau memikirkannya, membunuh musuh-Nya dan melepaskan diri dari nasib yang mengerikan ini. Tetapi Dia memikirkan kita dan janji-Nya kepada Bapa dan perjanjian baru dan yang lebih baik lagi yang Ia harus sahkan. Dengan darah-Nya Dia memateraikan selamanya kesepakatan dalam seumur hidup kita dan janji kekekalan. Dapatkah kita melakukan sedikitnya mengasihi dan melayani Tuhan yang seperti itu?

Advertisements