RENUNGAN PAGI 19 FEBRUARI 2017

Minggu, 19 Februari 2017


Pertemuan di Kalvari




“Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mazmur 85:10, 11).



Perjanjian keselamatan dibuat di surga antara Allah Bapa dan Allah Anak sebelum penciptaan dunia yang diungkapkan kepada orangtua kita yang jatuh di Taman Eden yang disebut perjanjian baru, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Ibrani. Hal ini karena perjanjian yang dibuat dengan bangsa Israel di Sinai, sementara sebenarnya perjanjian kemudian, berakhir sebelum yang satu diumumkan kepada Adam dan Hawa.


Di kayu saliblah kedua perjanjian dipertemukan. Di sinilah, mereka saling menyentuh sebagai tipe (perjanjian Sinai) dan antitype (perjanjian Eden). Darah Yesus, sementara mengesahkan atau memateraikan perjanjian yang semula tetapi baru, diumpamakan dengan darah hewan yang orang setia persembahkan selama 4.000 tahun ketika mereka menghormati yang lama tetapi perjanjian yang kedua – yang pernah disediakan untuk bangsa Israel. Salib adalah tempat di mana kedua perjanjian tersebut bertemu, di sana janji bertemu penggenapannya dan bayangan bertemu dengan substansinya; harapan bertemu dengan realita, penantian bertemu dengan kenyataan; waktu bertemu dengan keabadian, dan Setan, musuh utama Pangeran Imanuel, bertemu dengan kebinasaannya.


Ellen White memberikan gambaran untuk peristiwa pertemuan ini dengan menyatakan bahwa di Kalvari, “keadilan pindah dari takhta yang mulia, dan dengan semua tentara surga mendekati salib. Di sanalah terlihat Seorang yang setara dengan Allah menanggung hukuman untuk semua ketidakadilan dan dosa. Dengan kepuasan yang sempurna Keadilan membungkuk dengan hormat di kayu salib, mengatakan, ‘sudah cukup’” (Seventh-day Adventist Bible Commentary, Ellen White Comments, jld.17, hlm.936).


Ya, sudah cukup! Sudah cukup penderitaan, sudah cukup darah yang tertumpah, sudah cukup rasa sakit, sudah cukup pengorbanan, sudah cukup kesendirian, sudah cukup sakit hati dan sudah cukup demonstrasi kasih sayang dari Tuhan bagi umat manusia. Bapa melihat, “Sesudah masa hidup pengorbanan-Nya. Keabadian itu sendiri tidak akan cukup untuk memahami sepenuhnya kepenuhan kasih-Nya atau cukup memadai untuk mengekspresikan sukacita penebusan.

Advertisements