RENUNGAN PAGI 18 FEBRUARI 2017


​Ditandatangani, Dimeteraikan, dan Diberikan



“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).



Paradoks ayat inti dalam Kejadian, dan mungkin di seluruh Alkitab, diucapkan tidak untuk manusia tetapi untuk Lusifer. Sementara malaikat yang jatuh itu adalah objek langsung dari Firman Tuhan, ras manusia yang jatuh itu adalah penerima yang bahagia dari kekuatan mereka.


Di sanalah di tempat kejadian perkara ketika mereka meringkuk dalam keterkejutan dan merasa bersalah, orangtua pertama kita diberi harapan akan datangnya Penebus, janji pengampunan dan penyelamatan dari keadaan tragis mereka yang tak terkatakan.


Pemenuhan janji itu tidak terjadi selama kurun waktu 4.000 tahun. “Tetapi pada waktu yang tepat,” ketika konsekuensi dosa telah menekan penduduk dunia hingga ke level terendah, ketika manusia, direndahkan oleh ribuan dosa, tampak dan cenderung bertindak seperti binatang di hutan daripada seperti Allah yang dalam rupa-Nya mereka dibentuk, suara dari surga terdengar, mengatakan: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki—tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku” (Ibr. 10:5).


Kelahiran Kristus di Betlehem memulai penggenapan dramatis janji yang dibuat di Eden. Hal itu tidak mudah. Kedatangan-Nya, harus layak, memuaskan baik hukum alam maupun tuntutan keadilan. Pribadi yang merupakan Wujud bait suci yang bersama dengan kita, yang setara dengan Allah, juga ada pada tingkat yang sama dengan kemanusiaan. Cara Kristus mengatasi masalah fisik dan etika ini adalah secara taktis yang paling cerdas, secara strategis yang paling menakjubkan dari semua prestasi yang pernah ada. Menjadi Allah sekaligus manusia adalah suatu tindakan yang membingungkan Setan, membuat heran para malaikat, menyenangkan Bapa, dan memberi sukacita dan keselamatan kepada semua orang yang dengan tulus menerima dan dengan setia menurut kepada Firman-Nya.


Tidak hanya kedatangan-Nya dan pelayanan-Nya yang kelak sepenuhnya dicapai, tetapi juga janji kemarahan Setan terhadap misi-Nya. Kebencian yang mengakibatkan pengorbanan hidup-Nya di Kalvari. Tumit-Nya diremukkan, darah-Nya ditumpahkan, dan dengan darah perjanjian yang lebih baik ditandatangani, dimateraikan, dan diberikan.

Advertisements