RENUNGAN PAGI 16 FEBRUARI 2017

​Saling Setia




“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1 Tesalonika 5:24)



Perjanjian baru yang Yesus bangun tidak hanya melibatkan satu ras tertentu, sebagai saluran dari kehendak-Nya. Sekarang Dia melakukan perjanjian dengan seluruh umat manusia tanpa memandang ras atau status atau perawakan. Keistimewaan yang dulu pernah diturunkan melalui keturunan Abraham sekarang diturunkan kepada setiap dan semua orang yang percaya.


Apa manfaat yang diterima oleh pengikutnya? Dia memberikan kepada mereka sinar matahari dan hujan, waktu menabur dari menuai, makanan kita yang secukupnya dan napas kita sehari-hari. Tetapi bukankah Dia juga memberikan hal ini untuk mereka yang tidak mengenal-Nya? Bukankah hujan juga turun kepada mereka yang adil dan tidak adil? Ya. Tetapi apa yang mereka tidak—tidak bisa—ketahui adalah kedamaian dalam badai kehidupan, sukacita di tengah kesedihan, jaminan dalam kesakitan, tangan-Nya yang membimbing dari melindungi di “lembah kekelaman” (Mzm. 23:4). Apa yang Dia minta dari kita sebagai imbalan adalah penurutan yang penuh kasih.


Bagaimana hal itu terjadi bagi kita sejauh ini dalam tahun ini? Apakah awal bulan yang baru di tahun baru mengungkapkan bahwa kita telah melakukan dengan benar bagian kita dari perjanjian? Jika tidak, mengapa tidak memulainya lagi hari ini? Tuhan tidak pernah lelah dengan pertobatan yang tulus dan awal yang baru; Dia tidak pernah menolak untuk menerima kita kapan pun dan di mana pun kita mencari-Nya. Walau hubungan kita dengan perjanjian terakhir dengan setia kita lakukan maupun tidak setia, Dia selalu bersedia dan menunggu untuk membenamkan kejujuran dalam hati, demi perjanjian itu. Hanyalah karena kurang keyakinan dan kepercayaan, yang dapat membuat penolakan atau pembatalan berkat perjanjian Allah. Kalvari membuktikan bahwa Dia setia. Pertanyaannya adalah: Apakah kita setia?


Salah satu contoh sejarah yang paling menakjubkan mengenai janji setia adalah kasus Onoda, tentara Jepang yang ditemukan di sebuah pulau tersembunyi di Pasifik pada tahun 1974 yang memimpin perang gerilya untuk peristiwa yang ia tidak yakini telah berakhir. Kurus dan kelaparan, ia bukan hanya terkejut; ia marah dan sangat malu karena pemerintahnya telah menyerah kepada Sekutu, mengakhiri Perang Dunia ke-2,30 tahun sebelumnya.


Kita dipanggil untuk bertarung dalam pertentangan segala zaman: Pertentangan antara Kristus dan Setan. Sebagai tentara yang setia di pihak kebenaran adalah tugas kita untuk memenangkan hari ini dan setiap hari tentara lain untuk dibawa kepada pihak Kristus, yang tidak pernah kalah dalam peperangan dan yang tujuannya untuk umat manusia suatu hari nanti segera dikembalikan kepada keadaannya yang semula.

Advertisements