RENUNGAN PAGI 15 FEBRUARI 2017



Tanggapan Yang Salah



“Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: ‘Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan “

(Keluaran 24:7).



Umat Israel bukanlah tidak tulus dalam deklrasi kesetiaan dan ketaatan mereka; mereka benar-benar bermaksud demikian ketika mereka menyatakan kesetiaan mereka; benar-benar bermaksud melakukannya.
Namun, niat baik mereka mengungkapkan pola kelemahan dan kegagalan—dari pemberontakan mereka yang didokumentasikan dengan baik selama berabad-abad dari perjalanan mereka mulai dari Paskah di Keluaran hingga Stefanus dirajam dengan batu. Mereka tidak menurut dengan sempurna, Mengapa? Karena mereka percaya pada kekuatan mereka sendiri untuk menurut; mereka bergantung pada kekuatan cadangan dan ketetapan mereka sendiri; mereka mengandalkan kecakapan manusia mereka dan gagal untuk menekankan peran Penebus yang membuat sistem pengorbanan mereka dihargai Hasil tragis loyalitas mereka yang salah merupakan persentase terbesar dari sejarah Perjanjian Lama.


Di sisi lain, sementara ketaatan yang akan membuat mereka menerima semua manfaat duniawi dari perjanjian yang diberikan kepada Abraham dan Musa, kepada mereka tidak diberikan hadiah terbesar dari semuanya—hidup kekal Hal itu karena ketaatan manusia, yang terbaik, sementara membuat surga bahagia, tidak membuat surga terjadi! Hanya kesempurnaan Kristus, penurutan yang suci yang diperoleh oleh kehidupan-Nya yang menderita yang bisa melakukan hal itu.


Keadaan kita saat ini tidak kurang buruk daripada mereka yang sungguh-sungguh berjanji di kaki Gunung Sinai. Tapi peluang kita jauh lebih besar—hal itu karena kita memiliki contoh mereka yang tidak menyenangkan serta jaminan kehidupan Yesus tidak hanya sekadar nubuatan, tapi terbukti dan tersedia untuk penebusan kita.


Contoh spesifik seperti apakah yang hal ini ajarkan kepada kita? Hal ini menyampaikan kepada kita bahwa janji kita, meskipun begitu tulus, hanya dapat dipertahankan hanya jika kita tetap berjangkar dengan kuat dalam hubungan dengan Allah. Hal ini menyatakan kepada kita bahwa yang terbaik dari kita tidaklah cukup—bahwa urapan kebenaran Kristus dibutuhkan untuk membuat penurutan kita dapat diterima. Hal ini memberitahu kita bahwa Allah itu panjang sabar dan penuh belas kasihan, “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa” (2 Ptr. 3:9), tetapi semua orang diselamatkan. Hal ini memberitahu kita bahwa kita adalah peserta dalam “sesuatu yang lebih baik”—perjanjian yang baru dan hidup yang dibangun di atas janji-janji yang lebih baik (Ibr. 8:6) di mana “kesalahan” telah digantikan (diatasi) oleh kemurahan hati yang tak terkatakan dari Anak Allah.

Advertisements