RENUNGAN PAGI 13 FEBRUARI 2017

​Tabut Perjanjian




Ibrani 9:4 (TB) Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian,



Tabut perjanjian itu dibedakan karena berbagai alasan, salah satunya adalah sifat isinya. Ada tempat buli-buli emas, di mana disimpan contoh manna ketika Tuhan pernah memberi makan umat-Nya selama 40 tahun. Di dalamnya ada tongkat di mana Allah, melalui hamba-Nya Harun, mempermalukan Firaun dan penyihirnya; dan di dalamnya terkandung loh batu di mana Sepuluh Perintah ditulis oleh Allah sendiri.


Masing-masing menyatakan dengan jelas kepada umat itu mengenai hubungan perjanjian Allah dengan mereka. Manna itu mengingatkan mereka perihal kuasa Allah untuk memasok kebutuhan fisik mereka; tongkat adalah otoritas-Nya atas segala allah lain serta atas semua otoritas manusia; dan Sepuluh Perintah Allah adalah kepeduliannya kepada kerohanian mereka serta kesejahteraan sosial mereka.


Lebih spesifik, tabut itu mewakili takhta Allah dan merupakan objek utama bait suci. Di bagian atasnya, di bawah sayap emas kerub yang melayang, adalah terang kemuliaan hadirat Allah. Sekali setahun imam besar datang untuk mendapatkan pengampunan dan persetujuan bagi bangsa Israel.


Karena tabut berbicara mengenai kerapuhan makhluk ciptaan serta kuasa Sang Pencipta, itu menunjukkan sesuatu yang tidak terdapat pada bagian-bagian bait suci lainnya, hubungan Ilahi/manusia dan perjanjian yang dinyatakannya. Hal ini menjelaskan dengan nada yang kudus dan serius ketergantungan manusia terhadap kehendak Allah, kebutuhan mereka mengenai pengampunan dosa, dan akhirnya, untuk kelangsungan hidup itu sendiri.


Tabut perjanjian dunia tidak lagi bersama kita. Namun, dalam bentuk surgawi, yang merupakan model kita, adalah di mana kita setiap hari bertelut memohon pengampunan dan kemurahan. Karena Yesus Juruselamat kita ada dan karena penghakiman diberikan kepada-Nya (Yoh. 5:22), kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” (Ibr. 4:16) menyadari hal itu di hadapan hadirat-Nya, “ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11), dan Dialah yang membuat Israel “tidak terlelap dan tidak tertidur” (Mzm. 121:4), dan bahwa “Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara [kita]” (Ibr. 7:25).

Advertisements