RENUNGAN PAGI 12 FEBRUARI 2017

​​



Hukum Perjanjian



​​ Ulangan 4:12-13 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepadamu dari tengah-tengah api; suara kata-kata kamu dengar, tetapi suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara.
Dan Ia memberitahukan kepadamu perjanjian, yang diperintahkan-Nya kepadamu untuk dilakukan, yakni Kesepuluh Firman dan Ia menuliskannya pada dua loh batu.



Sebelum Sinai, ketentuan perjanjian, yang membimbing hubungan mereka dengan Pencipta mereka dan satu sama lain, diucapkan—diturunkan dari mulut ke mulut. Di Sinai hukum itu ditulis oleh Allah dan disampaikan kepada umat-Nya dalam bentuk tertulis. Tidak lagi merasa yakin untuk dipercayakan kepada daya ingat manusia yang sekarang telah berkurang oleh 2.000 tahun kejatuhan dalam dosa, Allah merincikan hukum moral-Nya di atas batu.
​​


Adam dan Hawa mengerti tanggung jawab perjanjian mereka dengan mencintai penurutan kepada Pencipta mereka. Rusaknya hubungan istimewa ini ditandai dengan pertanyaan yang dengannya Pencipta menghadapi mereka, “Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” (Kej. 3:11).
​​


Sejarah generasi ke generasi mereka tidaklah lebih baik. Catatan perjanjian umat Allah antara Eden hingga ke Sinai menanggung bukti yang amat buruk dari banyak cara di mana manusia menandai era kegagalan mereka untuk menghidupkan ketentuan perjanjian mereka. Dengan memiliki allah lain di hadapan mereka, dengan melanggar hukum Sabat, membunuh, mencuri, dll, para bapa dan keturunan mereka sering dinyatakan bersalah karena melanggar kontrak mereka dengan Tuhan.
​​


Jika sekiranya umat pilihan Tuhan setia, mereka tidak akan menderita bencana mengerikan yang membayangi keberadaan mereka—penurutan akan meminimalkan penyakit mereka, mengubah rasa sakit mereka, memaksimalkan hidup mereka, dan memperbesar kesaksian mereka.
​​


Ketentuan hukum moral, yang diperkuat dalam kata-kata dan kehidupan Yesus sendiri, masih bertahan—“Menurut dan hidup!” Masyarakat modem, diserang oleh konsep kebebasan yang palsu dan terobsesi dengan keinginan untuk memuaskan diri sendiri, tidak mudah menerima hukum yang dinyatakan di Eden, ditulis di Sinai, dan dihidupkan dalam kehidupan Kristus. Coba pikirkan, Tuhan telah melakukan semuanya dan, di samping itu, menderita bersama Anak-Nya di Kalvari agar melalui “perjanjian yang lebih baik” kita sekarang beroleh pengampunan, memiliki “kehidupan yang lebih baik” hari ini, dan memiliki “hari esok yang lebih baik” di dunia yang akan datang.

Advertisements