RENUNGAN PAGI 10 FEBRUARI 2017


​Musa Sang Perantara



Keluaran 32:1-2 (TB)


1 Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.”


2 Lalu berkatalah Harun kepada mereka: “Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.”
Enam minggu setelah janji mereka untuk melakukan “semua yang Allah katakan,” umat tersebut menghancurkan ketentuan perjanjian mereka dengan tidak setia turut ambil bagian dalam penyembahan berhala.



Ketika Musa kembali dari persekutuan dengan Allah dan melihat adegan yang memalukan ini, ia melemparkan loh batu di mana Allah telah menuliskan hukum moral, dan memerintahkan agar anak lembu emas itu digiling menjadi tepung dan abunya dicampur dalam air yang diminum oleh umat tersebut. Setelah itu dengan tegas dia menegur mereka dan menyerukan untuk mendedikasikan ulang kesetiaan mereka kepada Allah yang benar.


Ketidaksenangan Allah terhadap suku-suku yang tidak taat tercermin dalam pernyataan-Nya kepada Musa: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir’” (Kel. 32:7). Dengan kata lain, Dia benar-benar menyangkal mereka, menghubungkan baik identitas maupun pembebasan mereka kepada Musa dan bukan kepada Diri-Nya sendiri.


Ketika Musa memohon kepada Allah dalam ayat 13, meminta: “Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” Perantaraannya itu efektif. Allah menerima permohonannya; umat yang diampuni, dan perjanjian terus berlanjut.


Sebagai mediator Israel, Musa mewakili Kristus, perantara bagi kita semua. Kita semua me-“rusak” diri kita sendiri (ayat 7); “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). “Seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorang pun tidak'” (ayat 10). Kita semua membutuhkan Perantara. Yesus adalah Musa kita—pemberi hukum, penebus kita, perantara kita.
Apa pun rasa sakit dan masalah, kekeliruan dan kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan kegagalan kemarin, hari ini kita dapat mengungkapkan kembali penyerahan kita kepada Allah dengan menyadari bahwa Dia, karena Yesus, Perantara dan Sahabat kita, akan mendengar doa-doa kita, menyembuhkan sakit kita, dan menghargai iman kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s