RENUNGAN PETANG 9 FEBRUARI 2017



​Mengejar Kekudusan




Bacalah Maz 15:1-2; Ef 4:22-24 dan 2Tim 2:21. Apakah yang dikatakan ayat-ayat ini kepada kita tentang kekudusan?


Kekudusan adalah prasyarat untuk menikmati kebahagiaan hubungan dengan Allah. Itu adalah prasyarat untuk kegunaan kita bagi Allah. Kita mengetahui kebenaran yang berkata “Taburkan tindakan, tuai kebiasaan; taburkan kebiasaan, tuai tabiat” dan kita boleh tambahkan “tabiat adalah nasib” kita. Satu-satunya yang akan kita bawa bersama kita ke surga adalah tabiat kita.


Membangun kebiasaan yang baru dan tabiat yang baru, biar bagaimanapun juga, bukanlah penyucian diri dengan usaha diri sendiri. Pembentukan kebiasaan adalah cara umum bahwa Roh Kudus menuntun kita kepada kekudusan. Kebiasaan adalah penting dalam perjalanan kekristenan kita, khususnya kebiasaan yang bertumbuh dalam hubungannya dengan sifat-sifat baik seperti kesabaran, kasih, kesetiaan, kebaikan, kemurahan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.


Ketika Roh Kudus mengisi hati kita, kita tidak perlu ragu menjadi aktif bagi Allah. Tetapi terlalu sering kita lupa bahwa Allahlah yang menguduskan kita dan yang akan menyelesaikan pekerjaan baik yang Ia telah mulai di dalam diri kita (Fil 1:6)
Kadangkala kita terlalu sibuk melakukan semua bagi Allah sehingga kita lupa untuk menikmati waktu bersama-Nya di dalam doa. Ketika kita terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk berdoa, kita sebenarnya terlalu sibuk menjadi orang Kristen.


Mungkin pengetahuan dan keberhasilan kita telah membuat kita terlalu bergantung dan percaya kepada diri sendiri sehingga kita mengandalkan keahlian dan rencana hebat kita dan kemudian kita lupa bahwa terpisah dan tanpa Roh Kudus kita tidak dapat menyelesaikan apa-apa.


Menjadi bukanlah kekudusan. Akan ada orang yang berpikir bahwa mereka telah melakukan pekerjaan yang besar bagi Tuhan, namun mereka benar-benar belum mengikuti Dia sama sekali. “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku; Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” lihat (Mat 7:22-23).


Terdapat perbedaan yang besar antara dipanggil oleh Allah atau digerakkan untuk melakukan sesuatu bagi Allah. Jika kita tidak lebih dahulu mengambil saat teduh untuk mendengarkan panggilan Allah, maka kita berdiri di dalam bahaya menggerakkan diri sendiri untuk melakukan apa yang kita mau. Tidak akan ditemukan kekuatan, tidak ada kuasa, tidak ada kedamaian, dan tidak ada berkat yang tetap dengan pekerjaan kita jika itu tidak mengalir dari sebuah panggilan ilahi. Kebutuhan kita yang terbesar di dalam kekudusan pribadi adalah waktu yang berkualitas bersama Allah ketika kita mendengarkan suara-Nya dan menerima kuasa yang baru dari Firman-Nya sementara dituntun Roh Kudus. Hal inilah yang akan memberikan kepada pekerjaan kita kredibilitas yang istimewa dan kekuatan yang meyakinkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s