RENUNGAN PAGI 9 FEBRUARI 2017


Perjanjian dengan Musa



Keluaran 19:5 (TB) Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.



Perjanjian Allah dengan Israel terjadi di bawah keadaan yang paling dramatis. Bayangkan adegan ini: Di Sinai, hanya tiga bulan setelah keluar dari Mesir, para pejalan rohani itu berkumpul dengan antisipasi khawatir akan petunjuk Allah bagi masa depan mereka. Mereka keluar dari Mesir dengan harapan yang tinggi perihal perjalanan singkat ke Kanaan. Tetapi sekarang keraguan mulai bangkit-mereka melihat ke depan ke medan yang sulit, suku-suku yang bersikap bermusuhan dan cuaca yang tidak ramah. Mereka ingin dan menbutuhkan jaminan, dan Tuhan memberikannya. Firman-Nya adalah: “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku, Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi”(Kel. 19:4,5).


Bagaimanakah tanggapan umat itu? “Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: ‘Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan’ Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN” (ayat 8).


Mereka tidak melakukan apa yang dikatakan Tuhan. Mereka berulang kali gagal. Mereka menyatakan ketidaksetiaan mereka terhadap Allah dengan ketidaksetiaan, bersungut-sungut dan mengeluh, dengan terus-menerus mengadopsi kebiasaan kafir di sekitar mereka dan dengan sering menentang pemimpin mereka. Kesetiaan seharusnya memberikan kepada mereka berkat yang jauh lebih baik daripada yang mereka dapatkan; ketidaksetiaan terwujud dalam kesulitan yang jauh lebih besar dari apa yang mereka dapat bayangkan.


Hal yang sama berlaku bagi kita sekarang ini—secara kelompok maupun pribadi. Baik manfaat kesetiaan maupun pahitnya ketidaktaatan jauh melampaui pengetahuan kita. Kita tidak bisa mengukur akibat keduanya. Tapi kita bisa, dalam kepercayaan yang sederhana, menerima ketentuan perjanjian Allah yang berkemurahan dan membangun setiap hari hubungan yang matang dengan-Nya. Berikut adalah pesan sederhana namun sangat bermakna yang digambarkan oleh sebuah lagu:


“Ketika kita berjalan dengan Tuhan dalam terang firman-Nya,

Betapa mulia sinar-Nya pada jalan kita

Sementara kita melakukan kehendak-Nya, Dia menyertai kita,

Dan semua orang yang percaya dan taat.

Percaya dan taat, karena tidak ada cara lain


Untuk bahagia di dalam Yesus, tetapi percaya dan taat.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s