RENUNGAN PETANG 8 FEBRUARI 2017



Peraturan Kekudusan adalah Hukum Allah



Kita mengetahui bahwa Allah memanggil kita untuk memelihara hukum-Nya. Namun, pertanyaan muncul, mengapakah kita harus memelihara hukum-Nya jika kita tidak dapat diselamatkan oleh hukum-Nya tersebut? Jawabannya ditemukan di dalam gambaran kekudusan.


Bacalah Roma 7:12 dan 1Tim 1:18. Sifat-sifat apakah yang digunakan Paulus untuk menggambarkan hukum tersebut? Bagaimanakah hukum Allah memantulkan tabiat-Nya?


Hukum Allah itu kudus, benar, dan baik. Ketiga sifat ini dengan tepat menunjuk hanya kepada diri Allah sendiri. Jadi, hukum Allah adalah ekspresi tabiat Allah.


Menghidupkan kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus artinya bahwa kita hidup sesuai dengan hukum Allah. Hukum tersebut adalah peraturan kekudusan yang tidak pernah berubah. Landasan yang membuat hukum itu berdiri tidak berubah sebagaimana Allah tidak berubah. Yesus mengakui bahwa hukum Allah tidak disalibkan, tetapi setiap bagiannya harus digenapi (Mat 5:17-19)


Memelihara hukum bukanlah legalisme; melainkan kesetiaan. Hukum tidak dapat menyelamatkan kita. Tidak akan pernah dapat. Hukum Allah bukanlah jalan kita kepada keselamatan. Tetapi hukum itu adalah jalan penuntun bagi mereka yang sudah diselamatkan. Hukum, bila digambarkan, bagaikan sepatu yang membuat kasih kita berjalan dan mengekspresikan dirinya. Oleh karena hal ini sehingga Yesus dapat mengatakan dalam cara yang luar biasa bahwa “karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12).


Kasih pudar ketika hukum Allah tidak dihargai.


Bacalah Roma 13:10 dan Roma 22:37-40. Mengapakah kasih menggenapi hukum Allah?


Sementara aturan dan norma kekudusan adalah hukum Allah, pusat kekudusan-Nya adalah kasih. Kasih adalah tanggapan balik terhadap tindakan penyelamatan Allah dan ditunjukkan dalam kesetiaan. Anda tidak dapat menjadi seorang murid yang baik tanpa menjadi seorang pemelihara hukum yang sungguh-sungguh dan mengasihi. Walaupun bisa memelihara hukum tanpa kasih, namun tidak mungkin menunjukkan kasih yang benar tanpa memelihara hukum. Kasih yang benar menginginkan kesetiaan. Kasih tidak menghapus hukum. Kasih menggenapinya.


Mengapakah hukum adalah sesuatu ungkapan kasih Allah kepada kita? Bagaimanakah kasih dan hukum itu berkaitan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s