RENUNGAN PAGI 8 FEBRUARI 2017

Upah Iman




Kejadian 17:4 (TB) “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.



Genesis 17:4 (KJV) As for me, behold, my covenant is with thee, and thou shalt be a father of many nations.




Kesediaan Abraham untuk menikam Ishak, anak perjanjian, adalah tindakan penyerahan yang utama. Dia percaya bahwa Tuhan mungkin akan menghidupkan dia kembali atau memberikan kepadanya dan Sarah anak lain melalui siapa janji perjanjian akan digenapi. Kelulusannya dari ujian tersebut membuatnya mendapatkan gelar “Bapa segala orang percaya” dan memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam galeri Ibrani sebagai pahlawan Perjanjian Lama (Ibrani 11:8-12)



Tindakan yang diminta untuk dilakukan oleh Abraham bukanlah seperti tantangan umat Kristen modern. Namun, kualitas iman yang ia tunjukkan masih diperlukan. Era kita bukanlah era iman persahabatan. Zaman ilmu pengetahuan dan teknologi meninggikan bukti empiris: data nyata—dapat dibaca, berwujud, terbukti secara logis. Sekarang bukanlah zaman percaya. Kita percaya kepada apa yang dapat kita lihat dan apa yang telah dibuktikan oleh tabung uji laboratorium kita; kita tidak percaya kepada dalil seseorang, terutama jika dalil tersebut menuntut penangguhan kepuasan—mengorbankan sukacita sekarang demi imbalan masa yang akan datang.



Yesus mengantisipasi kurangnya kepercayaan kepada hal-hal yang kekal agar generasi sekarang ini merasakan dan bertanya?: “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”(Luk 18:8)



Jawaban untuk pertanyaan itu adalah: “Ya, tapi tidak banyak!” Seperti pada zaman Nuh, hari-hari terakhir akan didapati hanya beberapa orang yang penuh iman. Walau bagaimanapun, akan ada umat yang sisa. Yohanes melihatnya dan menulis: “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Wah 14:1)


Paulus mempunyai jumlah orang setia yang sama dalam benaknya ketika ia menulis: “Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa” ( 1Tes 4:17)



Anda dan saya tidak dapat membuktikan bahwa kita akan hidup untuk menyambut kedatangan Tuhan kita, tetapi kita dapat dan harus menjadi seperti Bapa Abraham dan percaya bahwa Dia adalah Allah kebangkitan dan yang menggenapi janji-janji-Nya dengan menjalani hari-hari kita dalam penyerahan kepada pemenuhan perjanjian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s