RENUNGAN PAGI 7 FEBRUARI 2017


​Tanda Persetujuan


“Lagi firman Allah kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu'” (Kejadian 17:9-11).


Kami tidak terkejut bahwa Allah melembagakan sebuah peringatan atau tanda sebagai cara untuk memeteraikan kesepakatan antara diri-Nya dan Abraham. Tidak lama sebelum kelahiran Abraham Tuhan menyediakan, setelah air bah, pelangi sebagai pengingat, kepada umat manusia perihal perjanjian-Nya. Kemudian, dalam pengembaraan Israel di padang gurun, Dia memberi tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari, demikian juga berbagai pengorbanan darah, sebagai simbol dari hubungan perjanjian-Nya dengan umat-Nya.

Tetapi mengapa sunat menjadi tanda yang menandakan perjanjian-Nya dengan Abraham? Karena ritual yang menyakitkan ini, yang dilakukan pada setiap laki-laki keturunan Ibrani dan dikenakan kepada setiap laki-laki yang diadopsi dalam masyarakat mereka penuh dengan pelajaran spiritual. Di antaranya: membuang daging (Rm. 2:27,28), meninggalkan semua tabiat dan beban yang tidak penting (Ibr. 12:1), panggilan untuk kebersihan hati (Rm. 2:29), dan yang paling pedih dari semuanya, rasa sakit dan penderitaan Yesus, yang mengesahkan “perjanjian yang lebih” milik Bapa-Nya dengan kepatuhan-Nya untuk menerima ngerinya rasa sakit Kalvari.

Salah satu pasukan yang menyaksikan tindakan itu berseru: “Sesungguhnya orang ini adalah Anak Allah” (Mrk. 15:39). Ketika kita yang hatinya disunat juga menangis dalam penyerahan kepada kasih karunia-Nya yang tak terhingga bagi kita, pengakuan ini dipandang surga sebagai tanda sikap yang membuka untuk kita semua hak dan janji-janji hubungan perjanjian dengan Allah kita.

Dalam tindakan penurutan nyata seperti apakah kita dengan paling jelas mengungkapkan hubungan perjanjian kita yang terus berkelanjutan dengan Tuhan kita? Dengan menghormati hari Sabat-Nya. Inilah makna dari kata-kata Yehezkiel: “Akulah TUHAN, Allahmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia, kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu” (Yeh. 20:19,20).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s