RENUNGAN PETANG 6 FEBRUARI 2017

​Sifat Dasar Kekudusan


“Semakin dekat engkau datang kepada Yesus, makin jelas salahmu engkau lihat sendiri; karena pandanganmu semakin jelas, dan kekurang sempurnaanmu akan jelas sekali berbeda dengan keadaan-Nya yang sempurna itu. Inilah bukti bahwa tipu daya Setan telah kehilangan kuasanya, karena kuasa Roh Allah sudah menggerakkan engkau.”—Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 54.


Bacalah Efesus 1:4’ 5:25-27, dan Ibrani 12:14. Apakah maksud Allah bagi semua umat-Nya dan bagi gereja?

Kekudusan itu adalah karunia Allah dan juga perintah-Nya. Karena itu kita harus berdoa untuk kekudusan dan berusaha untuk menyatakannya setiap hari. Kekudusan adalah buah Roh yang dinyatakan di dalam kehidupan kita ketika kita berjalan oleh Roh Kudus bersama Kristus setiap hari (Gal 5:16, 22, 25). Kekudusan, dalam satu kata, serupa dengan Kristus. Itu artinya menjadi milik Yesus dan hidup sebagai anak-Nya dalam kasih yang menurut dan sungguh-sungguh lebih dan lebih lagi dalam menyesuaikan diri di dalam keserupaan-Nya. Arti mendasar yang dikaitkan dengan konsep kekudusan menunjukkan sebuah keadaan yang dipisahkan, diasingkan untuk sebuah pelayanan yang khusus bagi Allah. Di sisi yang lain, kekudusan juga menandakan sebuah kualitas moral dan kerohanian yang hakiki, yang disebut menjadi benar dan mumi di hadapan Allah. Kedua aspek ini perlu selalu disatukan bersama.

Dalam Perjanjian Baru, orang-orang percaya disebut kudus oleh karena hubungan mereka yang unik dengan Yesus yang mengasingkan mereka untuk sebuah tujuan yang khusus. Menjadi kudus tidak membuat mereka secara etika sempurna atau tidak berdosa, tetapi mengubahkan mereka agar mereka dapat memulai suatu kehidupan yang mumi dengan pola hidup yang kudus (bandingkan dengan 1 Korintus 1:2 ketika Paulus menyebutkan orang-orang di jemaat Korintus sebagai orang-orang kudus, walaupun mereka bukanlah tidak berdosa dan sempurna). Umat percaya diperingatkan untuk meneruskan kekudusan, yang bahwa tanpa kekudusan seorang pun tidak akan melihat Tuhan (Ibr. 12:14). Penerimaan Allah akan setiap orang percaya adalah sempurna dari awalnya, namun pertumbuhan kita di dalam penyucian adalah sebuah proses seumur hidup dan selalu perlu ditingkatkan lebih jauh agar kita dapat lebih diubahkan ke dalam rupa yang tidak bercacat dari Dia yang telah menyelamatkan kita.

Terdapat ketegangan antara menjadi kudus dan meneruskan kekudusan itu. Bagaimanakah cara kita dalam mengejar kekudusan itu berbeda jika kita tahu bahwa kita sudah menjadi milik Allah, dan bahwa kita diterima di dalam diri-Nya karena pengorbanan Yesus untuk kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s