RENUNGAN PAGI 5 FEBRUARI 2017


​Perjanjian dengan Nuh


“Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:… ‘Maka Kuadakan perjaniian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi’” (Kejadian 9:8-11),


Demonstrasi awal perjanjian Allah dengan manusia adalah pelangi janji-Nya kepada Nuh. Sama seperti Tuhan telah memberikan harapan kepada Adam dan Hawa dengan menyertakan dalam pernyataan hukuman mereka sebuah janji perihal datangnya Penebus (Kej. 3:15), Dia memberikan jaminan kepada Nuh di atas kebinasaan dari air bah ketika Dia membentang pelangi sebagai deklarasi kasih-Nya yang dramatis dan menyenangkan.

Melalui pelangi terlihat kemurahan Allah menurut pandangan orang benar (Nuh dan keluarganya), tetapi dalam kehancuran yang terjadi, Dia membentang juga kepada kita untuk melihat keadilan-Nya yang menakutkan. Keindahan pelangi yang lembut namun menakjubkan menjadi pengingat bahwa pembinasaan makhluk ciptaan-Nya adalah seperti sebutan berikut, “ganjil perbuatan-Nya itu” (Yes. 28:21); bahwa kematian dan kebinasaan bukanlah keinginan-Nya bagi umat manusia, karena dosa-dosa kitalah yang memisahkan kita dari-Nya dan memaksa ketidaksenangan-Nya.

Pelangi masih ada bersama dengan kita. Pesan utama dari keindahannya adalah bahwa masalah tidak akan berlangsung selamanya; bahwa di atas liang kebingungan dan penderitaan manusia ada Allah yang penuh kasih yang sedang menunggu dan mengendalikan lingkaran alam semesta. Tidak peduli seberapa buruk atau seberapa sakitnya hidup kita, Tuhan melihat, Tuhan tahu, bahwa keadilan-Nya yang tegas diseimbangkan oleh kemurahan-Nya yang besar; dan di balik teror kehidupan ini ada hari yang lebih baik di masa depan.

Seorang dokter yang baik, selama 50 tahun, melayani tanpa pamrih di kota kecil bekerja di kantornya dengan papan nama sederhana yang mengarahkan pasien ke fasilitas kantornya di lantai dua. Ketika ia meninggal, keluarganya memberikan penghormatan unik untuk mengenangnya dengan menempatkan kata-kata yang ada pada papan nama pada batu nisannya untuk menandai makamnya. Bunyinya: “J. J. Murdock, Berkantor di Atas.”

Yesus, Penebus kita, menghabiskan hidup-Nya tanpa pamrih, pelayanan yang penuh pengorbanan untuk dunia kita yang hampir binasa dan sekarat. Dia tidak lagi bersama kita, tetapi dari “kantor-Nya di atas” Dia melihat penderitaan kita, mendengar doa-doa kita, dan memenuhi janji-Nya untuk menyediakan hidup dan sukacita dan damai bagi semua orang yang menghormati Dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s