RENUNGAN PAGI 4 FEBRUARI 2017


​Perjanjian Hidup


“Manusia itu menjawab: ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’ Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini?’ Jawab perempuan itu: ‘Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan'” (Kejadian 3:12, 13).


Dalam menyusun ketentuan perjanjian dengan Adam dan Hawa, Tuhan tidak berkeinginan untuk menyembunyikan dari mereka sejarah kejahatan. Dia ingin agar mereka belajar mengenai dosa dan konsekuensinya, tetapi bukan sebagai peserta atau korban dari proses tersebut. Mereka, seiring berjalannya waktu, secara memadai diperkenalkan kepada rahasia pohon. Dengan mengikuti keinginan Setan, mereka mempersingkat proses itu; mata mereka dibuka, tetapi perjanjian mereka rusak, dan perjanjian kehidupan dibatalkan.

Hosea menggambarkan pelanggaran perjanjian orangtua pertama kita: “Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku” (Hosea 6:7).

Betapa suatu tawaran yang mengagumkan yang Tuhan berikan—betapa kesepakatan yang luar biasa! Untuk ketaatan mereka yang penuh iman, mereka menerima hidup kekal dalam suasana kesempurnaan mutlak! Tapi mereka gagal di tengah keindahan surga. Dan, seperti yang diingatkan nabi kepada kita, ketika orangtua pertama kita berdosa, mereka bahkan sedang tidak merasa lapar (Signs of the Times, 4 April 1900). Ayat-ayat Alkitab mengungkapkan bahwa mereka membuat alasan, tetapi sebenarnya tidak ada alasan yang masuk akal. Tidak pernah ada alasan yang masuk akal untuk dosa. Dosa hanya dapat dijelaskan oleh upaya penyembahan berhala yakni kecenderungan mencari kepuasan diri sendiri daripada pengorbanan diri dan percaya kepada Tuhan.

Sementara hubungan yang Anda dan saya miliki dengan Tuhan membawa jauh lebih sedikit konsekuensi kosmik yang ada pada kasus Adam dan Hawa, hubungan itu tidak kalah penting bagi Dia dan tidak kurang bermakna bagi takdir pribadi kita. Tuhan akan selalu menepati janji-Nya. Ini adalah realitas yang membuat Yeremia menulis: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! ‘TUHAN adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (Rat. 3:22-24). Dan pemikiran itulah yang seharusnya mengilhami kita hari ini untuk hidup dalam ketaatan penuh sukacita dalam kehendak-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s