RENUNGAN PAGI 2 FEBRUARI 2017


​Allah yang Mengadakan Perjanjian

“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit” (Kejadian 2:4).


Karakter Sang Pencipta yang membuat perjanjian dengan umat manusia tercermin dalam berbagai nama di mana Dia memperkenalkan diri-Nya dalam kitab Kejadian. Pertama, Dia dinyatakan dalam Kejadian 1:1 sebagai Allah, bahasa Ibrani “Elohim,” merujuk kepada Pribadi yang panjang sabar dan lemah lembut terhadap makhluk ciptaan-Nya—dengan kata lain, Tuhan yang penuh kasih.
Kedua, Dia dinyatakan dalam Kejadian 2:4 tidak hanya Allah, tetapi TUHAN Allah. TUHAN dalam bahasa Ibrani adalah “Yahwe,” Pribadi yang terkait dengan keberadaan-Nya dengan kualitas ketepatan dan akuntabilitas—dengan kata lain, Pribadi yang adil.

Dengan demikian, kombinasi kedua istilah ini, Yahwe dan Elohim, atau TUHAN Allah, nama yang muncul 11 kali dalam Kejadian 2, kepada kita dinyatakan pernyataan sepenuhnya kepribadian Allah. Dengan kata lain, kata “TUHAN Allah” merupakan esensi dari sifat-Nya, bentuk kembar karakter-Nya, dan prinsip ganda hubungan perjanjian-Nya dengan manusia.

Ada banyak lagi nama lain yang digunakan dalam Alkitab. Di antaranya: El Shaddai, Penyedia berkat kepada umat-Nya; El Elyon, Pencipta langit dan bumi; Adonai, Tuhan dan Penguasa semua makhluk, dan El Olam, Allah yang melakukan kehendak-Nya selama-lamanya.
Adalah melalui sebutan asli ini, TUHAN Allah, atau Sang Pencipta, yang keduanya sungguh-sungguh adil dan sepenuhnya Penyayang, kita melihat totalitas yang mencakup segala keberadaan-Nya.

Dalam banyak catatan Perjanjian Lama kepada kita diberikan penekanan mengesankan mengenai keadilan Allah yang sempurna. Dalam Perjanjian Baru, bagaimanapun, kita terkesan dengan kemurahan Allah di Kalvari. Perlu dicatat bahwa di kayu saliblah hak prerogatif yang bertentangan ini secara kekal didamaikan; di sanalah, pada pusaran sejarah, “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm. 85:11); di sanalah, dalam bentuk domba yang tersembelih, alam semesta melihat perpaduan sempurna keadilan (Yesus dihukum atas nama orang-orang berdosa) dan karunia (Yesus dihukum sebagai orang berdosa itu sendiri).

Bagaimanakah seharusnya tanggapan kita? Bagaimana bila memulainya dengan mengucapkan syukur setiap hari untuk segala kebaikan-Nya, dan berserah setiap hari kepada kasih karunia-Nya yang nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s