RENUNGAN PAGI 1 FEBRUARI 2017

Sesuatu yang Baru



“Dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel” (Ibrani 12:24).


Alkitab berisi banyak kemungkinan sesuatu yang baru. Firman Allah memberikan kita janji mengenai kelahiran baru (Yoh. 3:3-5), menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17), mewarisi langit yang baru (Why. 21:1), menempati bumi yang baru (2 Ptr. 3:13), memperoleh nama baru (Why. 2:17), menyanyikan lagu baru (Why. 5:9), dan seperti yang dinyatakan oleh Kristus sendiri, menjadi bagian dalam perjanjian baru (Mat 26:28).

Yang lama tidak selalu buruk. Teman lama, kenangan lama, nilai-nilai lama, dan kadang-kadang bahkan buku-buku lama, pakaian lama, mobil lama, dan yang lainnya, seperti benda-benda yang menyenangkan indera kita dan meningkatkan zona nyaman kita, membawa perasaan menyenangkan dan kenangan.
Tetapi yang lama selalu terikat kepada hal yang statis, tidak terasa waktu berlalu. Ini adalah indikator pasti kefaanaan kita: Tanda keadaan kita yang dapat binasa; bukti tertentu dari kenyataan keadaan fana yang mengikat ras manusia—fakta bahwa “waktu dan musim tidak menunggu seorang pun.”
Yang baru, di sisi lain, berbicara mengenai memulai kembali: Harapan untuk hubungan yang lebih baik, peningkatan kinerja, peningkatan kebahagiaan—prospek kepuasan dari yang belum pernah dialami sebelumnya. Perjanjian baru Tuhan adalah kendaraan yang karena perjanjian itu, segala kebaikan untuk kerohanian dan fisik terpenuhi.

Bukan berarti perjanjian lama yang ditegakkan di Sinai tidak memiliki nilai untuk kita di zaman ini—aturan legalnya tidak lagi berlaku, tapi pelajaran kerohaniannya tidak boleh hilang. Kita belajar darinya bahwa Allah harus dihormati, dihargai, dan dipuja; bahwa Allah adalah Penyedia yang setia untuk kebutuhan umat-Nya; bahwa Allah adalah benar-benar dapat dipercaya dalam menggenapi janji-janji-Nya; dan bahwa kesuksesan sejati menuntut tanggapan manusia atas inisiatif Ilahi.

Kita juga belajar bahwa sumpah manusia dan kemenangannya, tidak peduli seberapa megah, bukanlah kualifikasi diri mereka sendiri untuk mendapat persetujuan surga; bahwa “mereka tidak bertindak dengan cara yang setuju dengan hal-hal yang mereka katakan” dan bahwa hanya dengan pencerahan Roh Ilahi ketaatan sejati berkelanjutan.

Inilah tepatnya apa yang perjanjian meteraikan di Kalvari—mengenai Perjanjian Baru dari darah-Nya (Mat. 26:28). Dengan pengorbanan ini, penyucian adalah anugerah kebenaran Kristus; bukan hasil dari usaha kita Prioritas kita yang paling mendesak adalah menerima karunia yang agung dan mulia ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s