RENUNGAN PAGI 29 JANUARI 2017

Minggu 29 januari 2017

Jaminan Keselamatan

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat;TUHAN;Allahmu maka jangan, melakukan sesuatu pekerjaan, engkau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya”(Keluaran 20:8-11)

Tujuh adalah angka lain yang memiliki “visibilitas tinggi” dalam Alkitab. Penggunaan yang paling menonjol, tentu saja, menyangkut Sabat yang ditetapkan oleh Allah di Eden sebagai peringatan penciptaan dan ditegaskan kembali oleh istirahat Yesus di dalam kubur Yusuf yang baru.

Tujuh, juga angka yang digunakan untuk menggambarkan tahun-tahun yang Yakub janjikan bekerja untuk Rahel (Kej. 29:20) Jumlah Naaman mencelupkan diri di Sungai Yordan (2 Raj 5:10), tahun siklus panen bangsa Israel (Kel, 23:10,11), jumlah darah dipercikkan pada tanduk-tanduk mezbah (Im. 16:19), perhitungan perintah Kristus sehubungan dengan pengampunan (Mat. 18:22), jumlah jemaat yang dibahas dalam Wahyu (Wahyu 1:11), kaki dian yang di antaranya Roh bergerak (ayat 13), dan jumlah bintang yang ada di tangan kanan Allah (ayat 16).

Dalam penggunaan ini dan pada yang lainnya adalah mungkin untuk melihat: (a) sifat kekal perjanjian kemurahan Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya; (b) jaminan Allah menggenapi atau menyelesaikan pekerjaan pemulihan-Nya bagi dunia yang jatuh ke dalam dosa; (c) fakta bahwa kemurahan Allah tidak meniadakan tuntutan kita kepada penurutan; dan (d) kekudusan perintah Ilahi.

Tetapi sekali lagi, penggunaan yang paling mengesankan dari nomor 7 adalah tempatnya dalam siklus mingguan, yang secara harfiah “ketujuh yang suci” atau hari Sabat yang suci—satu-satunya hari yang Tuhan berkati, sucikan, dan kuduskan.

Apa yang membuat ibadah pada hari ketujuh lebih berarti adalah pelayanan kita yang tekun pada enam hari kerja yang mendahuluinya. “Ketujuh yang suci” tidak dapat sepenuhnya dinikmati kecuali seseorang dengan setia memanfaatkan dengan baik “keenam sekular.” Dengan hidup di jalan Allah, hari itu tidak seperti hari lainnya membawa kekayaan istirahat dan upah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s