Renungan Pagi 25 Januari 2017

UMAT TUHAN DIORGANISASIKAN




Keluaran 13:18 (TB)

“Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.”


Perhatikan bagaimana kalimat kedua dibaca: “Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir” Tanpa belenggu tetapi tidak tanpa fokus, umat Israel, 600.000 pria belum termasuk wanita dan anak-anak, meninggalkan pahitnya perbudakan dan menuju rumah mereka di Kanaan. Mereka tidak meninggalkan Mesir dengan kacau-balau atau berantakan; mereka keluar dengan teratur yang disusun dengan instruksi yang jelas sesuai dengan nilai dan proses. Pertemuan mereka kemudian dengan bangsa yang wilayahnya mereka lalui dan yang tentaranya mereka taklukkan adalah kesaksian kepada kepatuhan mereka terhadap tuntutan ketat barisan yang teratur. Mereka, dinyatakan Musa, “dengan siap sedia.”

Keluarnya bangsa Israel dengan teratur telah menjadi contoh yang baik bagi umat Allah sepanjang sejarah. Allah kita adalah Allah yang teratur. Alam semesta, dengan hukum-hukumnya yang mengagumkan, dengan musimnya yang dapat diprediksi, dan prinsip-prinsip operasinya yang tersusun, mengingatkan kita bahwa “Allah tidak menghendaki kekacauan” (1 Kor. 14:33) dan bahwa keberhasilan dalam pekerjaannya-Nya, seperti dalam hal lainnya, tergantung pada tingkat proporsi perhatian kita kepada rincian dan kepatuhan kita kepada otoritas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dunia modem menekankan individualisme radikal; konversi melogikakan kebaikan kebebasan kepada bentuk lisensi legal dalam masyarakat dewasa ini— tidak memiliki tempat di gereja Allah yang hidup. Tugas mengabarkan Injil menuntut usaha dari umat yang bersatu dalam doktrin, diatur dalam sebuah kebijakan, dan dipimpin oleh Roh Kudus, yang memberkati persatuan dan menolak ketidakteraturan.

Namun, persatuan bukanlah keseragaman. Mereka keliru, mereka yang menuntut agar orang percaya berbaris melalui padang gurun penantian dengan “menurut tanpa berpikir” atau dalam ketidakkreatifan, adalah persesuaian yang tidak imajinatif dari keseragaman. Allah yang teratur juga adalah Allah keragaman dan bebas dari perbudakan keseragaman yang menyesakkan dan tradisi yang melelahkan. Umat Allah maju bersiap sedia dalam arti kerja sama dengan ketentuan dan peraturan yang sehat, tetapi tidak pernah ditekan atau terhalang dalam hal kreativitas yang sah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s