RENUNGAN PAGI 24 JANUARI 2017

​Akhir dari Awal

“Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini, lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja” (Keluaran 12:6)

Fajar merekah memulai paruh kedua karunia sementara Allah yang paling mendasar untuk umat manusia: Siklus 24 jam yang kita sebut hari. Dalam minggu Penciptaan, segala yang awalnya sebagai kegelapan diubah menjadi bercahaya dan indah, dunia dibuat terang oleh kehadiran dan kuasa Sang Pencipta. Namun, dalam model Paskah, anak domba disembelih pada sore hari atau ketika panjangnya bayangan menandakan kedatangan kegelapan. Yakni ketika rotasi bumi mulai meredupkan sinar matahari anak domba disembelih. Tindakan ini merupakan bayangan dari tekanan berat dan pengalaman menakutkan yang dialami oleh pengikut Kristus setelah penyaliban-Nya.
Tetapi meskipun demikian kesedihan dan duka ini, kematian Yesus sesungguhnya adalah permulaan hari yang lebih baik. Yesus, Paskah kita yang lebih baik, meninggal pada jam kesembilan atau 15.00 sore pada hari Jumat—hari penyaliban-Nya. Untuk menghormati hari Sabat, teman-teman-Nya meminta dan menerima izin untuk menurunkan tubuh-Nya dari salib, dan mereka dengan perlahan, sambil menangis membaringkan Dia di dalam kubur. Dia berada dalam kubur Yusuf yang baru di penghujung hari Jumat, ia beristirahat sepanjang hari Sabtu (Sabat), dan ia bangun pada subuh, hari pertama (Minggu). Kematian-Nya seolah-olah seperti terang yang menyerah kepada kegelapan— sekarang Dia bangkit bagai kegelapan yang dilenyapkan oleh terang!
Tekanan yang ditanggung murid-murid-Nya yang putus asa dan kesuraman yang menyelimuti pasukan malaikat (yang masing-masing akan dengan senang hati mati di tempat-Nya) bukanlah awal dari akhir; itu hanyalah akhir dari awal—Dia bangkit! Dalam kilauan, terang yang menyilaukan, Dia bangkit!.
Kemenangan-Nya mengingatkan kita bahwa “sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6); bahwa bagaimana pun malam pencobaan kita, “Ia menyegarkan jiwaku” (Mzm. 23:3); bahwa tidak peduli seberapa menghancurkan masalah atau kekecewaan, kita memiliki harapan  akan hari yang lebih baik di dunia yang lebih baik. Semua ini dimungkinkan karena anak domba Paskah kita telah bangkit, dan memerintah tidak hanya sebagai Raja alam semesta, tetapi juga sebagai Tuhan dalam hidup kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s