RENUNGAN PETANG 20 JANUARI 2017

Sekolah Sabat

Jumat, 20 Januari 2017

Pendalaman: Bacalah Ellen G. White, “Penggambaran Keallahan yang Keliru,” Mari Bersaksi, hlm. 656.
Seperti yang kita pelajari pada pekan ini, bukti Alkitabiah untuk Keilahian Roh Kudus sangatlah meyakinkan. Roh Kudus adalah Allah. Tetapi ingat: Dalam memikirkan perihal Roh Kudus, kita sementara berhadapan dengan sebuah misteri Ilahi. Kita menekankan maksudnya: Sebagaimana kita tidak dapat menjelaskan Allah dan sifat-Nya dengan sepenuhnya, maka kita harus menolak cobaan untuk membuat pengertian manusia kita sebagai standar untuk bagaimana Allah itu seharusnya. Kebenaran jauh di luar pengertian manusia, khususnya ketika kebenaran itu dihubungkan dengan sifat alami diri Allah sendiri.
Di saat yang sama, iman di dalam Keilahian Roh Kudus lebih daripada sekadar menerima ajaran yang terbuka tentang Trinitas. Itu termasuk bersandar pada dan percaya dalam pekerjaan penyelamatan Allah seperti yang ditugaskan oleh Bapa dan diselesaikan oleh Anak di dalam kuasa Roh Kudus. “Tidaklah penting bagi kita untuk dapat mendefinisikan apa Roh Kudus itu…. Sifat Roh Kudus adalah suatu rahasia. Manusia tidak dapat menjelaskannya, sebab Tuhan belum menyatakan kepada mereka. Manusia mempunyai pandangan-pandangan penuh fantasi untuk menyatukan seluruh Kitab Suci sesuai dengan suatu pertimbangan manusia sendiri, tetapi penerimaan akan pandangan ini tidak akan menguatkan sidang. Mengenai rahasia seperti itu, yang terlalu dalam bagi pengertian manusia, berdiam adalah emas.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 43.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

1. Filsuf Austria, Ludwig Wittgenstein, pernah menulis: “Apa yang tidak dapat kita bicarakan harus kita lalui dengan diam.” Walaupun maksudnya berbeda dari apa yang Ellen G. White tulis, namun prinsipnya tetaplah sama. Oleh karena itu mengapa jauh lebih baik berdiam tentang aspek mengenai Allah dan kebenaran-kebenaran rohani secara umum yang belum dinyatakan oleh inspirasi Roh Kudus?
2. Kadangkala adalah sangat menolong bila merefleksikan pandangan teologi dengan menanyakan: “Apakah yang bisa hilang bila pandangan tentang hal ini tidak benar?” Sebagai contoh: “Apakah yang dapat hilang bila Kristus bukanlah Allah?” Sehubungan dengan Roh Kudus, bisa juga ditanyakan: “Apakah yang bisa saja hilang bila Roh Kudus tidak sepenuhnya Aliah?”
3. Apakah yang dikatakan oleh kutipan berikut ini kepada kita pada tahap penerapan? “Roh Kudus, yang mengisi diri kita, bukanlah sebuah pengaruh yang samar-samar atau kekuatan mistis. Dia adalah Pribadi Ilahi, yang diterima dengan kerendahan hati, penghormatan, dan penurutan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu bukanlah lebih banyak pertanyaan tentang berapa banyak Dia kita miliki, tetapi Dia lebih memiliki kita—ya, semua ada bagi kita.”—LeRoy Edwin Froom, The Corning of the Comforter), hlm. 159

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s