RENUNGAN PAGI 17 JANUARI 2017

Sayur Pahit

“Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga, yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit”(Keluaran 12:8)


Sayur pahit berbicara mengenai penderitaan di kedua belah pihak, baik pembebas (Anak Domba Allah yang sejati) dan yang dibebaskan (umat-Nya, Israel).Itu juga mengingatkan kita kepastian penderitaan dalam kehidupan hidup orang percaya zaman ini Penderitaan orang kudus ini memiliki beberapa kategori. Salah satunya adalah konsekuensi alami dari kondisi manusia: Keadaaan fisik lemah yang dihasilkan oleh pelanggaran Adam dan kita sendiri—penyakit dan kelainan yang merupakan konsekuensi dari kejatuhan. 
Yang lainnya disebabkan oleh Setan sebagai alat untuk menggagalkan umat Allah dan rencana-Nva. Taktik Setan seringkali lebih halus daripada di abad sebelumnya, 
tetapi kekejaman dan keyakinan mereka tidak berkurang. Bahkan mereka melipatgandakan dan lebih intensif saat Setan mengetahui akhir zaman sedang mendekat (Wahyu 12:12).
Sumber penderitaan yang lain adalah perbuatan kita sendiri. Pernyataan Alkitab, “berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran (Mat. 5:10) mengingatkan kita bahwa tidak semua penderitaan adalah hasil dari konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari kejatuhan atau hasil dari serangan tertentu Setan. Beberapa penderitaan merupakan hasil dari perbuatan sadar kita yang buruk dan secara khusus merusak kepercayaan diri kita.
Masih ada penyebab penderitaan yang lain: Rasa sakit yang ditimbulkan oleh Allah sendiri—ujian menyala-nyala yang Dia gunakan untuk memurnikan dengan membakar untuk menyingkirkan kotoran dari berlian mentah (yang melambangkan umat-Nya) dan dengan demikian mempersiapkan kita untuk digunakan dalam pelayanan-Nya sekarang dan di kerajaan yang akan datang.
Tidak peduli apa sumber atau kategorinya. Alkitab mengingatkan kita bahwa semua cobaan kita bisa menjadi alat pertumbuhan rohani. Jika kita menanggung dengan penuh rasa percaya penderitaan yang tidak dapat dihindari dan belajar dengan rendah hati dari kesalahan yang bisa dihindari, kita akan menemukan bahwa “segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia’ (Rm. 8:28). Kita juga terinspirasi untuk ingat bahwa hari yang lebih baik sedang mendekat—suatu hari kelepasan yang sempurna dari kekacauan pahit dan rasa sakit kehidupan ini. Suatu hari di mana mawar tanpa Air, hidup tanpa kematian, dan waktu tanpa akhir; kemungkinan yang menggembira akan ini membuat hari ini dan setiap hari merupakan pendahulan harapan untuk “sesuatu yang lebih baik.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s