RENUNGAN PAGI 8 JANUARI 2017

​Domba Jantan

“Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun, kamu boleh ambil domba atau kambing” (Keluaran 12:5)

Pada zaman Alkitabiah pilihan domba jantan sebagai korban meramalkan sejumlah aspek penting dari pelayanan Yesus.
Dari awal pria ditugaskan melakukan peran sebagai imam, penyedia, dan pelindung keluarga. Yesus adalah segalanya bagi umat manusia yang membutuhkan. Sebagai imam kita, Dia melayani setiap hari dalam pengadilan di atas, Dia adalah “Perantara,” Pembela kita yang layak, dapat dipercaya di hadapan Bapa. Sebagai penyedia kebutuhan kita, Dia memberikan kita rezeki sehari-hari dengan tuntunan Alkitab, dan memberikan karunia waktu untuk menabur benih dan menuai sehingga orang benar tidak pernah terlihat ditinggalkan atau benih mereka “meminta-minta roti” (Mzm. 37:25). Sebagai Pelindung kita, Dia menuntun kita dengan malaikat-Nya melalui dan mengitari bahaya fisik yang dengannya Setan bisa menghancurkan gereja kita, anak-anak kita, dan kehidupan kita.
Dia melindungi kita secara rohani juga. Itulah yang dipikirkan Daud dalam benaknya ketika ia menulis: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mzm. 119:11).
Pria adalah yang pertama diciptakan di Eden, ditugaskan untuk memelihara anak dan istrinya. Tinggi dan kecakapan fisik yang lebih, harus dimanfaatkan dalam menjamin kenyamanan dan kebahagiaan mereka. Dalam arti, status Hawa tidak sekadar sama dengan Adam, tetapi sebenarnya lebih istimewa, sebab kesejahteraan Hawa harus dijamin oleh pengabdian Adam.
Yesus, Anak Allah dan Anak Manusia, adalah Penjamin untuk seluruh umat manusia. Dia lahir dari daging (Rm. 8:3) dalam sebuah proses yang Ellen White gambarkan sebagai “misterius” dan “menyakitkan” (The Upward Look, hlm. 90). Dia lahir untuk melayani. Tugas-Nya adalah salah satu dari pengorbanan diri, penyangkalan diri, dan pengorbanan yang tidak mementingkan diri. Jenis kelamin yang Yesus ambil bukan keadaan yang lebih unggul, tetapi tugas untuk melayani. Dalam skema Allah dari segala sesuatu, pria dipanggil untuk bertindak sebagai pemelihara yang diperlukan untuk menjamin keselamatan keluarga dan masyarakat. Istilah suami (husband) atau “house band,” itu sendiri, adalah konotasi dari pelayanan dan pengorbanan, yang diharapkan dari Adam dan semua yang berjenis kelamin seperti dia.
Ini adalah pandangan yang cukup berbeda dari pola pikir yang mendorong banyak pria untuk melakukan fungsinya dalam hubungan merdu dengan lawan jenis dan satu sama lain. Tapi ini adalah pola pikir dan teladan Yesus, korban Anak Domba dan Tuhan yang kita kasihi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s