RENUNGAN PAGI 7 JANUARI 2017

​Domba Muda

“Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari” (Keluaran 29 38).

Sistem persembahan korban Israel menuntut korban yang masih muda. Umat itu diperintahkan untuk menyembelih domba muda, lembu jantan muda (Im. 4: 3), sapi muda (Im. 9:2), dan anak hewan yang masih muda (ayat 3), dan jika mereka terlalu miskin, mereka menggunakan hewan pilihan mereka sebagai contoh, merpati muda (Im. 14:30).
Kematian Yesus di usia 33 tahun tidak biasa untuk era di mana Dia tinggal Masa 4.000 tahun dosa yang terjadi di antara Eden hingga Betlehem telah melemahkan vitalitas manusia, dan pada generasi Kristus beberapa orang mampu bertahan hidup melampaui umur 30 tahunan.
Bagaimanapun, manusia tidak kehilangan vitalitasnya sekaligus. Ketika kita melihat kembali kepada 1.500 tahun permata, Adam hidup hingga 930 tahun; Nuh, yang jangka waktu hidupnya menjembatani air bah, hidup hingga 95 tahun. jadi umur hidup bertahan hingga mendekati 1.000 tahun.
Tetapi setelah Air Bah, tingkat kejahatan berkontribusi untuk menurunnya umur panjang. Abraham, yang kelahirannya terjadi sekitar saat kematian Nuh, hidup selama 175 tahun. Daud, yang melayani enam abad sebelum Kristus, memperhitungkan 70 tahun adalah usia lanjut dan 80 tahun mungkin dapat dicapai tetapi perpanjangan usia yang menyakitkan. Seiring dengan waktu, kita tiba pada era Betlehem, kebinasaan dosa telah mengantarkan harapan hidup ke titik terendah dalam sejarah manusia—kurang dari 22 tahun.
Tidak, usia pada akte kematian Yesus tidak unik pada zaman-Nya. Hal ini, bagaimanapun, unik untuk sejarah manusia pada umumnya. Dia adalah seorang muda yang menjadi korban. Muda, karena pada saat penyaliban-Nya kapasitas Nya untuk melakukan yang baik ada pada puncaknya: muda, karena kesehatannya adalah sempurna dan kehendak-Nya tidak terpadamkan; muda, karena dalam terang rencana asli Allah bagi umat manusia. Dia nyaris tidak ada.
Dia bisa saja menunda kematian-Nya jauh melampaui yang terjadi atau sekalian melarikan diri dari teror. Faktanya Dia tidak melakukannya sebagai peringatan setiap hari mengenai pengorbanan-Nya yang tiada taranya demi kepentingan kita dan inspirasi utama dari renungan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s