RENUNGAN PAGI 1 JANUARI 2017

​Satu Bangsa Lahir

“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun'” (Keluaran 12:1, 2)

Dalam hal drama, emosi, dan makna sejarah tidak pernah ada sesuatu yang seperti itu! Akhirnya, setelah lebih dari empat abad masa perbudakan, mereka bebas. Perjalanan dan janji hingga terbentuknya sebuah umat telah menghancurkan moral mereka serta reputasi dan budaya mereka. Tujuh belas generasi hidup dan mati tanpa penggenapan janji Allah kepada Abraham, tetapi sekarang akhirnya—akhir yang sangat panjang— hal itu pun terlaksana!
Firman Allah selalu “terlaksana.” Ada kalanya berkat-Nya tertunda (seperti 40 tahun perjalanan bangsa Israel melalui padang gurun) agar penerima ke murahan Nya dapat dikondisikan untuk menerima kebaikan-Nya. Tetapi, tidak akan pernah gagal, firman-Nya selalu terlaksana.
Hal ini tidak hanya berbicara mengenai janji-janji Allah yang ditekankan dalam ayat bacaan kita—hal ini juga berbicara mengenai kekuatan dan kebijaksanaan tuntunan-Nya. Musa dan Harun tidak membuat kesalahan dalam memberikan instruksi mereka; mereka menganggap bulan di mana perbudakan mereka berakhir sebagai awal kemerdekaan mereka sebagai satu bangsa. Firman Tuhan memberikan peringatan untuk “mulai menghitung sekarang juga.”
Nasihat apakah yang lebih baik bagi kita melalui hal ini, hari pertama di tahun baru, mulailah menghitung sekarang. Keberhasilan dan kegagalan tahun lalu telah dinilai. Tahun ini adalah dimulainya unit perhitungan baru. Sementara 12 bulan ke depan tidak diragukan lagi dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, tahun ini akan menjadi suatu bab tersendiri—pertarungan yang berbeda, kesempatan baru, waktu untuk memperbaiki dan berkembang, kesempatan untuk memulai lagi. Ini adalah hak istimewa bagi kita dan keinginan Allah agar kita “mulai menghitung sekarang juga.”
Apakah yang harus kita hitung? Mari kita mulai dengan berkat setiap harinya. Kita tidak akan menerima begitu saja kemurahan Allah. Kita akan berdoa untuk perlindungan-Nya, untuk tuntunan-Nya, dan pengampunan-Nya. Ketika Dia menjawab permohonan kita, kita akan menuliskannya dalam buku catatan ucapan syukur kita. Mulai hari ini, kita tidak akan, seperti sembilan orang kusta di Alkitab, menerima penyembuhan tetapi lupa untuk bersyukur. Di atas segalanya, kita akan menghitung pertumbuhan pribadi kita; Pertumbuhan kita dalam pengetahuan, dalam kesabaran, dalam pengendalian diri, dalam iman, dan dalam semua buah Roh lainnya yang melibatkan kegiatan kita yang paling penting sepanjang tahun—kita berkembang dalam keserupaan dengan Kristus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s